Tag Archive: bali export


Amerika Serikat dan negara-negara Uni Eropa bakal memperketat masuknya kiriman paket-paket logistik dari seluruh dunia awal tahun depan. Namun regulator penerbangan RI menyatakan telah siap menembus ketatnya pemeriksaan cargo tersebut.

“Kita telah mengimplementasikan pemeriksaan ekspres melalui regulated agents (RA) untuk pengiriman cargo internasional. Karenanya, pengiriman asal Indonesia dinyatakan telah siap dikirim ke seluruh dunia,” kata Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, Herry Bakti S Gumay di Jakarta, Jumat (11/11/2011).

Seperti diketahui,  keselamatan dan keamanan kargo menjadi salah satu isu penting di AS dan Eropa. Negara-negara itu bahkan akan memblacklist negara asal kargo yang tidak melalui prosedur keamanan yaitu diperiksa melalui X-ray satu per satu sehingga barang yang akan dikirim jelas telah aman.

Mengenai protes perusahaan jasa pengiriman yang meminta pelaksanaan RA ditunda sudah tidak beralasan, karena sebenarnya seluruh pihak telah siap. Maskapai penerbangan yang mengangkut, jelasnya, telah mendukung langkah tersebut.

“Perusahaan pengirimannya yang belum siap, tetapi itu tidak berpengaruh terhadap implementasi inspeksi barang tersebut,” tandasnya.

Pelaksanaan pemeriksaan barang logistik internasional telah dilakukan awal Oktober lalu dan hingga saat ini tidak mengalami kendala, sementara inspeksi kargo domestik telah dilakukan sebulan sebelumnya.

Advertisements

Bali Cargo – Nilai ekspor Provinsi Bali ke Rusia mencapai 1,4 juta dolar AS selama periode Januari-September 2011 atau mengalami kenaikan hingga 34,5 persen dibandingkan periode sama 2010 yang hanya 1,1 juta dolar AS.

“Kenaikan nilai ekspor nonmigas itu antara lain disumbangkan oleh aneka barang kerajinan buatan masyarakat daerah ini, hasil pertanian dan perkebunan,” kata Kasi Ekspor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Bali, Putu Bagiada, di Denpasar, Sabtu.

Perdagangan luar negeri ke Rusia cukup menggembirakan dalam situasi yang kurang menguntungkan terutama jika dikaitkan dengan krisis ekonomi yang terjadi di Eropa dan Amerika Serikat.

Bertambah banyak realisasi perdagangan aneka barang kerajinan bernilai seni buatan pengrajin Bali itu tentu berkat perkembangan dunia pariwisata daerah ini yang semakin banyak menerima kunjungan turis asing termasuk dari Rusia.

“Sektor pariwisata sangat membantu pertumbuhan perdagangan aneka barang kerajinan sebagai barang cindramata, sebab setiap turis yang datang dapat dipastikan akan membeli barang oleh-oleh di sini,” kata Putu Bagiada.

Orang Rusia relatif lebih boros membelanjakan uangnya di Bali, baik untuk makanan maupun buat membeli aneka kerajinan berupa cindra mata, di samping tinggalnya di daerah ini tercatat rata-rata lebih dari seminggu.

“Turis asal Rusia banyak membeli patung berbahan baku kayu berbentuk kuda, baik ukuran menengah maupun besar yang sepadan dengan Kuda aslinya,” kata Made Urip pelayan toko seni di Desa Mas sambil menunjukkan jenis barangnya.

Laporan Dinas Pariwisata Bali menyebutkan, jumlah kunjungan turis Rusia yang datang langsung dari negaranya ke daerah ini sebanyak 50.986 orang selama Januari-September 2011 atau rata-rata 5.665 orang per bulan.

Kehadiran warga Rusia tersebut bertambah banyak jika dibandingkan rata-rata tahun lalu hanya 5.000 orang per bulan, jadi kunjungan wisatawan Rusia ke Bali dari tahun 2004-2009 mengalami peningkatan yang cukup signifikan.

Kehadiran turis Rusia di daerah ini, pernah tercatat sebagai sepuluh besar negara pemasok turis asing ke Bali, bersaing dengan pelancong asal Inggris, Amerika Serikat, dan Taiwan.

Turis Rusia paling ramai datang ke Bali antara Desember dan Januari, sedangkan bulan selanjutnya berfluktuasi, namun secara keseluruhan meningkat terus. Tren seperti itu terpantau sejak 2004 yang kala itu turis Rusia baru mencapai 10.966 orang.

Bali Cargo : Kawasan Berikat bakal membutuhkan banyak teknologi informasi (IT) untuk kebutuhan ekspor dan impor barang yang akan diperdagangkan.

“Kenapa membutuhkan banyak IT? Karena kawasan berikat berkembangnya sangat cepat,” ujar Direktur Fasilitas Kepabeanan Robert Leonard Marbun, dalam acara sosialisasi kawasan berikat dan gudang berikat, di Kantor Pusat Bea Cukai, Jakarta, Jumat (28/10/2011).

Menurutnya, jika tidak memakai IT kemungkinan proses pengawasan dan pelayanan ekspornya akan sulit dicapai.

“Jika tidak begitu prosesnya akan sulit tercapai maka dari itu kita juga memakai elektronik dokumen,” kata Robert.

Ia juga menambahkan akan ada pendelegasian channel yang artinya tidak semua harus terpusat di kantor pusat tapi juga di kantor-kantor daerah.

“Jadi enggak hanya di pusat. Di daerah juga harus bisa lakukan itu. Di pusat cuma sekadar penerbitan dan pencabutan dokumen bisa lebih cepat,” tambahnya.

Robert menjelaskan, itu adalah hal-hal yang paling utama dalam kawasan berikat. Kemungkinan besar akan berkembang lagi jika ada yang perlu didiskusikan.

“Itu yang penting selebihnya mungkin didiskusikan lagi nanti,” jelasnya. (ade)

 

2011, Ekspor Kerajinan Bali Masih PotensialDenpasar (Bali Post) –

Produk kerajinan berbahan baku kayu mendominasi jenis produksi kerajinan Bali yang diekspor maupun dipasarkan di dalam negeri. Namun, meski realisasi ekspor kerajinan cukup tinggi, saat ini para perajin di Bali menghadapi berbagai kendala, yakni menyangkut berbagai peraturan internasional yang diterapkan sejumlah negara tujuan ekspor.

Kadisperindag Bali, I Gede Darmaja, beberapa waktu lalu mengatakan untuk pangsa pasar ekspor ada peraturan internasional yang menuntut adanya legalitas atas bahan baku kayu yang digunakan suatu produk kerajinan. Produk kerajinan berbahan kayu yang tidak memiliki legalitas, dipastikan akan tidak diterima oleh negara bersangkutan. Sejumlah negara yang membuat aturan impor produk dari kayu adalah negara-negara pasar utama ekspor Bali seperti Amerika Serikat, Australia, dan sejumlah negara Eropa.

Terkait sejumlah penyerapan ekspor Bali, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, I Gede Suarsa, mengatakan nilai ekspor Bali yang dikirim lewat sejumlah pelabuhan di Indonesia pada Januari 2011 mencapai sekitar 44 juta dolar AS. Dibandingkan Desember 2010 yang 43 juta dolar AS, nilai ekspor Bali hingga Januari 2011 meningkat 0,36 persen. ”Namun bila dibandingkan Januari 2010 yang mencapai sekitar 45 juta dolar AS, angka tersebut menurun 2,43 persen,” ujarnya.

Menurut Gede Suarsa, nilai ekspor Bali ke Amerika Serikat Januari 2011 mencapai 8.466.326 dolar AS atau naik 19,18 persen dari Januari 2010 yang hanya 8.411.213 dolar AS. Jepang nilai ekspornya mencapai 6.212.626 dolar AS atau naik 14.07 persen dari Januari 2010 yang tercatat 5.052.253 dolar AS. Prancis 2.583.178 dolar AS meningkat 5,85 persen dari 3.080.114 dolar AS pada Januari 2010. Singapura mencapai 2.506.380 dolar AS dan Australia 2.485.031 dolar AS.

Bali Cargo – Realisasi nilai ekspor berbagai produk kerajinan Bali ke 84 negara tujuan mencapai USD519,01 juta sepanjang 2010 lalu. Jenis produk kerajinan Bali yang paling banyak diekspor maupun dipasarkan di dalam negeri saat ini adalah produk kerajinan berbahan baku kayu.

“Total ekspor produk Bali selama 2010 mencapai USD 519,91 juta dan 26,7 persennya adalah produk kerajinan kayu,” kata Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali I Gede Darmaja, di Denpasar, Rabu (6/4/2011).

Namun, meski realisasi ekspor kerajinan cukup tinggi, saat ini para pengrajin di Bali menghadapi berbagai kendala. Kendala dimaksud menyangkut berbagai peraturan internasional yang diterapkan sejumlah negara tujuan ekspor.

Darmaja menyebutkan, peraturan internasional tersebut menuntut adanya legalitas atas bahan baku kayu yang digunakan perajin. Produk kerajinan berbahan kayu yang tidak memiliki legalitas, dipastikan akan ditolak oleh negara bersangkutan.

Beberapa negara tujuan ekspor bahkan membuat peraturan yang memberikan batasan yang sangat tegas tentang produk hasil hutan yang masuk ke negaranya. “Ini menjadi salah satu kendala yang dihadapi perajin kayu di Bali,” jelas Darmaja.

Dia menyebutkan, sejumlah negara yang membuat kebijakan aturan impor produk dari kayu adalah negara-negara yang menjadi pasar utama ekspor Bali di antaranya Amerika Serikat, Jepang, Australia, dan sejumlah negara Eropa.

Adapun ekspor produk yang terkena imbas atas berbagai peraturan itu di antaranya produk mebel dan rumah kayu knock down. Untuk itu, diperlukan kerja sama semua pihak, baik pemerintah maupun perajin, untuk mencari solusi agar produk
kerajinan kayu dari Bali bisa lebih diterima di pasar internasional.

Di pihak lain, para perajin Bali juga tengah didera kesulitan bahan baku kayu, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Pasalnya, keterbatasan lahan di Bali serta tingginya kebutuhan bahan baku kayu untuk kerajinan, terpaksa harus mendatangkan bahan baku kayu dari luar Bali.

Sebenarnya, mengantisipai berbagai peraturan internasional terkait impor kayu dan produk kayu ke negaranya, Indonesia telah menerbitkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 38/2009 yang mengatur tentang sistem verifikasi legalitas kayu.

“Kami saat ini tengah berupaya mempersiapkan para perajin untuk menghadapi implementasi sistem verifikasi legalitas kayu,” tutup Darmaja

%d bloggers like this: