Bali Cargo – Pengaturan kendaraan berat (truk dan kontainer) masuk ke tol dalam kota dan di jalan wilayah Bogor dan Tangsel akan membawa dampak buruk bagi ekonomi, khususnya konsumen kelas menengah ke bawah. Masyarakat akan terbebani logistic fee yang bertambah sehingga harga barang melonjak tinggi.

“Konsumen terbebani logistic fee akibat berputarnya truk karena dilarang masuk tol dalam kota dan daerah-daerah lain. Sehingga masyarakat harus membayar lebih, kebijakan itu tidak berpihak kepada masyarakat kelas bawah,” kata Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi pada detikcom, Rabu (25/5/2011).

Hal yang sama juga berdampak bagi pengusaha yang akan mendistribusikan barangnya. Biaya operasional seperti bahan bakar dan biaya tol melonjak.

“Tak hanya masyarakat, pengusaha juga merugi. Operasionalnya naik, biaya tol tambah, bahan bakar juga butuh lebih banyak karena truk harus berputar lebih jauh,” ujarnya.

Kebijakan pelarangan truk dan angkutan berat dinilai hanya memanjakan kendaraan pribadi saja. Truk dan angkutan berat dianggap menjadi sumber kemacetan padahal menurut Tulus, keberadaan kendaraan pribadi jauh lebih banyak ketimbang truk dan angkutan berat.

“Saya lebih setuju pembatasan dilakukan oleh pemilik kendaraan pribadi dan truk, dua-duanya. Jangan hanya truk saja, perlu diingat kendaraan pribadi justru menjadi biang macet,” tegasnya.

Selama pelaksanaan KTT ASEAN ke-18 di JCC, kendaraan berat seperti truk dan kontainer dibatasi jam operasionalnya. Mulai pukul 05.00 WIB sampai 22.00 WIB kendaraan berat dilarang masuk tol dalam kota dari Cawang sampai Tomang, begitu juga sebaliknya. Kendaraan berat yang melintas di tol dalam kota akan mulai dialihkan di Cawang dan Tomang.

Seusai KTT ASEAN ke-18, penutupan tol bagi truk dan kendaraat berat lain dilanjutkan hingga 10 Juni 2011. Hal ini sekaligus uji coba rencana kebijakan pembatasan jam operasional angkutan berat yang belum terealisasi.

Akibat kebijakan ini, kendaraan berat memilih berjalan memutar ke Serpong dan Bogor. Pemerintahan kedua wilayah itu keberatan karena hal itu membuat macet beralih ke wilayah mereka dan membuat jalan cepat rusak. Pemerintah Bogor mulai 1 Juni akan membatasi tonase truk yang lewat wilayahnya. Sedang Tangsel membatasi jam operasi truk yang boleh lewat di Jl Raya Serpong.