Jakarta – Adanya bencana gempa dan tsunami Jepang tidak mempengaruhi volume ekspor batubara milik PT Indo Tambangraya Tbk (ITMG) ke negera Sakura tersebut. Meskipun di 2010 penjualan batubara ke Jepang mencapai 4,7 juta ton atau kedua terbesar setelah Cina.

Hal ini diutarakan Presiden Direktur PT Indo Tambangraya Megah Tbk Somyot Ruchirawat dalam paparan publik di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Senin (28/3/2011).

“Untuk Jepang tidak terlalu berpengaruh, karena wilayah tujuan kami tidak terlalu banyak yang dilanda tsunami,” jelasnya.

Ia menambahkan, wilayah yang terkena dampak bencana dan menjadi tujuan penjualan ITMG di Jepang perseroan siap mengarahkan ke tempat lain. Meski Jepang mengkontribusikan volume jual kedua tertinggi, bencana ini tidak mempengaruhi penjualan perseroan periode mendatang.

“Permintaan tidak berkurang. Over all tidak ada, dan tidak berpengaruh kepada volume penjualan. Kita alihkan ke wilayah lain ke Jepang,” paparnya.

Volume penjualan ITMG sepanjang 2010 naik 5% dari 21 juta ton menjadi 22,1 juta ton. Ini menjadikan penjualan bersih perseroan sejatinya meningkat 11% dari US$ 1,508 miliar di 2009 menjadi US$ 1,668 miliar.

Empat negara terbesar tujuan ekspor batubara ITMG adalah China (5,1 juta ton), Jepang (4,7 juta ton), Taiwan (2,5 juta ton), dan Korea Selatan (1,8 juta ton).

Harga jual rata-rata batubara sepanjang tahun lalu juga naik 5% menjadi US$ 74,9 per ton dari sebelumnya US$ 71,5 per ton. Perseroan mengharapkan, harga rata-rata kembali meningkat.

Dengan harga rata-rata yang meningkat, menjadikan marjin laba perseroan tetap, di tengah terus merangkak naik harga minyak dunia yang tentu akan memperbesar biaya produksi ITMG.

“Kita bisa lihat indeks batubara naik, jadi dengan harga minyak naik maka marjinnya diharapkan tetap,” kata  Direktur Keuangan ITMG, Edward Manurung